Showing posts with label CeRpeN. Show all posts
Showing posts with label CeRpeN. Show all posts

Saturday, March 31, 2012

10 RAHSIA STAFF KECEMASAN TIDAK AKAN BERITAHU ANDA


tak sangka readest digest ada buat artikel pasal ni..macam menarik.. jom kongsi sesame...

~from Readest Digest~

1. “People call 911 for the wrong things all the time. They wait too long to call—or don’t call at all—when they’re having a heart attack or stroke and we could actually save their lives. But they don’t hesitate to call for non-life-threatening things. I once had a guy call who turned out to have a hangnail.”
-Connie Meyer, RN, paramedic, Olathe, Kansas
2. “Even though we go on 20 calls a day, we try to remind ourselves that calling 911 may be a sentinel event in your life. We’re not Dr. Phil, but we do try to be reassuring.”
-Anthony Kastros, fire department battalion chief, Sacramento, California
3. “The 911 system was designed to help people in an emergency—not as a social agency or friend.”
-Don Lundy, paramedic, Charleston County, South Carolina
4. “I’m amazed at how many parents are reluctant to administer any first aid. If your child has a cut, apply pressure.”
-Joan Shook, MD, emergency physician, Houston, Texas
5. “Just because you told the triage nurse your problem doesn’t mean the doctor in the ER knows why you’re there. Be prepared to tell your story several times.”
-Linda Lawrence, MD, emergency physician, San Antonio, Texas
6. “I’ve had patients come in and say, ‘I haven’t been breathing well since yesterday.’ I’m thinking, ‘Oh my God, really? Why didn’t you come in sooner?”
-Marianne Gausche-Hill, MD, emergency physician, Torrance, California
7. “If three of your relatives are with you, only one of them needs to tell the story of your illness. I realize it’s validating for everyone to tell their version of events, but I’m not here to validate you.”
-Allen Roberts, MD, emergency physician, Fort Worth, Texas
8. “A classic way a doctor-patient interaction can get off on the wrong foot is if a patient comes to the ER to get antibiotics. Most infections are viral, so they don’t respond to antibiotics. If we say you don’t need them, don’t argue.”
-David Newman, MD, director of clinical research, Department of Emergency Medicine, St. Luke’s-Roosevelt Hospital, New York City
9. We had an injured woman in our ER who said indignantly, ‘Do you know who I work for?’ In unison, all six of us who were treating her said, ‘No, and we don’t care.’”
-Allen Roberts, MD
10. “People are all up in arms about universal healthcare. Well, guess what: Those of us working in the trenches have been providing universal healthcare for years.”

Monday, October 19, 2009

......Bahaya Marah....


Kisah ni ku petik dari sebuah buku untuk dijadikan iktibar... Mengisahkan sepasang suami isteri yang tiggal di sebuah kota besar. Mempunyai seorang cahaya mata tercinta berusia 3 tahun, Alia. Disebabkan kedua-dua ibu bapa yang bekerja, Alia diasuh seorang pembantu rumah dari negara seberang.

Dijadikan cerita, pada suatu pagi di hari perayaan Thaipusam, Si ibu dan bapa membuat keputusan untuk bermotosikal ke tempat kerja.. Alia yang tinggal dirumah bersama leka bermain di halaman rumah tanpa disedari pembantunya. Suatu masa, dia terjumpa sebatang paku karat yang disangka berfungsi seperti sebatang pen. Setelah gagal melakar di atas simen, Alia mencari tempat yang sesuai untuk mencurahkan ideanya lalu dia mencuba pada kereta Honda City hitam bapanya yang baru dibeli setahun yang lalu. Lakaran gambar imaginasinya yang jelas menyebabkan die berasa gembira dan terus melakar gambar ayah dan ibunya.

Setelah pulang dari tempat kerja, terkejut 'gila' lah pasangan itu melihat keretanya diperlakukan begitu. Si bapa lantas menjerit, "Siapa punya kerja ni?" Pembantu rumah tersentak lalu berlari keluar. Dia lantas beristighfar dan ketakutan melihat wajah bengis tuannya. Tiba-tiba, berlari keluar si anak dengan nada manja berkata "Alia buat ayyahh..." Cantik tak?". Katanya lalu memeluk ayahnya manja seperti selalu.

Si ayah yang sudah hilang sabar merentap ranting pokok bunga di hadapannya, terus dipukul bertalu-talu tapak tangan anaknya kemarahan. Si anak yang tidak mengerti apa-apa terlolong-lolong dan menangis kesakitan dan ketakutan. Si ibu mendiamkan diri tanda bersetuju dengan tindakan suaminya. Si bapa rakus memukul-mukul kedua-dua belah tangan anaknya itu, dan setelah puas pasangan itu terus beredar meninggalkan anaknya. Pembantu rumah mendukung anak kecil itu memujuknya masuk ke dalam bilik.

Melihat keadaan tangan Alia, Si pembantu rumah berasa sayu lalu membersihkan tangan Alia sambil bergenang air mata di kelopaknya.. Alia menangis terjerit-jerit menahan pedihnya luka itu terkena air.

Keesokkan harinya, kedua-dua belah tangan Alia bengkak. Pembantu rumah mengadu. "Sapukan saja minyak gamat tu!", balas si ayah. Tiga hari berlalu, Si ayah langsung tidak menjenguk anaknya yang tidur dalam pelukan pembantu rumah mereka.

"Alia demam....", Kata pembantu rumah mereka....
"Bagi minum panadol tu", balas si bu. Si ibu hanya menjenguk anaknya yang sedang tidur dari jauh.. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberi tahu bahawa demam Alia terlalu panas. "Petang nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5 siap", balas majikannya.

Sampai ke klinik, disebabkan keadaan Alia yang sangat lemah dan lesu doktor mengarahkan dia dirujuk ke hospital. Setelah menjalankan beberapa ujian di hospital selama selang beberapa hari, doktor memanggil kedua pasangan itu untuk berbincang. "Disebabkan gangrene yang teruk, kami tiada pilihan, Ia sudah bernanah dan dijangkiti kuman dan demi menyelamatkan nyawanya, kedua tangannya perlu dipotong dari siku kebawah"..jelas doktor.

Si bapa dan ibu bagaikan terkena panahan halilintar mendengar kata-kata itu. Si ibu meraung, menangis merangkul erat anaknya. Si bapa yang terketar-ketar menandatangai surat pembedahan terduduk merasakan seperti tiada kekuatan untuknya berdiri. Alia terpinga-pinga melihat kedua ibu bapanya dan pembantu rumahnya menangis. Dia juga melihat kedua tangannya berbalut putih..

Dalam linangan air mata, Alia bersuara, "Abah......Mama........Alia tak buat lagi... Alia tak mau ayah pukul... Alia tak mau jahat..Alia sayang abah..sayang mama...Alia sayang Kak Warti..."
Sekaligus pembantu rumah dari Surabaya itu meraung seperti histeria.

"Abah...bagilah balik tangan Alia, Buat apa ambil...Alia janji tak buat lagi! Camne Alia nak makan? Nak main macam mane? Alia janji tak conteng kereta lagi....," Kata nya bertalu-talu.
Bagaikan gugur jantung ibunya mendengar kata-kata anaknya. Namun takdir yang terjadi, tiada siapa mampu menahan..

Moral: Segala tindakan yang berlandaskan api kemarahan akhirnya berlandaskan kesudahan yang tidak disangka.. Jangan biarkan api kemarahan menguasai diri kita.